| Jl. Asia Afrika (Alun-alun Bandung) Bandung - 40251 Jawa Barat, Indonesia | |
| telepon fax website messenger | : +62 22 4240275 : - : - : - : - |
| Koordinat GPS : Latitude = -6.921677 Longitude = 107.606063 | |
Fasilitas: Teropong dan tempat peribadatan juga peristirahatan. Deskripsi : Masjid Agung Bandung pada tahun 1875. Terkenal dengan sebutan Bale Nyungcung hingga pertengahan abad ke-20 (Sumber: masjid2000.org, KITLV). MASJID RAYA BANDUNG (1955) Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat yang dulu dikenal dengan Masjid Agung Bandung, selesai dibangun kembali pada 13 Januari 2006. Pembangunan itu termasuk dengan penataan ulang Alun-alun Bandung, pembangunan dua lantai basement dan taman kota sekaligus halaman masjid yang dapat dipergunakan untuk kegiatan seni budaya serta shalat Idul Fitri dan Idul Adha. MENGGAGAS MASJID AGUNG BANDUNG MASA DEPAN Tanpa disadari, hari demi hari tampilan masjid semakin seperti tenggelam dalam lautan hiruk pikuk segala macam aktifitas tersebut di atas. Apalagi setelah dibangunnya pagar yang tinggi di depan/sebelah timur bangunan masjid, maka masjid agung seperti hendak menghindar dari tekanan-tekanan dari luar yang boleh jadi memang mengganggu. Faktor keamanan misalnya, memang suatu hal yang perlu diselesaikan. Tetapi inilah kenyataan itu! Dalam tampilan dan ekspresi masjid di tengah-tengah makin padatnya aktifitas bisnis seperti itu, masjid agung memang seperti ibarat seorang sufi yang hendak mengucilkan diri karena khawatir akan dosa dan godaan-godaan dunia. Maka ia perlu membentengi dirinya, kalau perlu tidak bergaul/berhubungan dengan dunia `luar` darinya dengan benteng tinggi nan kokoh yang dimiliki. Mari Menengok Latar Belakang Sejarah Madinah sendiri secara leksikal berarti `kota`. Intelektual Muslim Nurcholish Madjid dalam Islam, Doktrin, dan Peradaban (1992), menyebutkan Madinah berarti pula sebagai peradaban (madaniyah, tamaddun, civilization), pola di suatu tempat (hadlarah, sedentary), dan pola budaya masyarakat (tsaqofah, culture). Dulu yang dilakukan Nabi Muhammad SAW pertama kali ketika hijrah ke Madinah adalah membangun masjid. Setelah itu membangun pasar dan pusat komersial, sebagaimana yang dijelaskan dalam sejarah bahwa pasar-pasar itu mampu menggeser pasar-pasar yang telah ada khususnya empat pasar Yahudi di Madinah. Bukankah ini juga menjadi pelajaran berharga bahwa kedua aktifitas itu (masjid dan pasar) tidak dipisah-pisahkan dan justru harus diseimbangkan. Eleanor Sims (1995) dalam Trade and Travel: Markets and Caravanserais menyebutkan bahwa bazaar dan masjid tumbuh bersama, kedua-duanya adalah tiang dalam kehidupan kota Islam, terpisah tetapi berdampingan secara harmoni. Begitu pula dalam preseden sejarah, bahwa masjid-masjid besar di dunia Islam seringkali muncul pasar di sekitarnya. Memang sangat alamiah, ketika banyak orang ke masjid seperti shalat Jum`at misalnya, maka terbentuklah pasar dengan sendirinya. Terdapat pula di dalam Al-Qur`an yang menyebutkan bahwa setelah ditunaikannya shalat Jum`at, maka disuruh setiap hamba itu untuk bergegas-gegas, mencari karunia-Nya. Dari konsep itu, tentu gagasan Masjid Agung Bandung masa depan sebaiknya perlu diintegrasikan keberadaan dengan lingkungan sekitarnya. Jadi tidak memisahkan diri atau malah meninggalkan lokasinya sekarang ini (dipindahkan).Yang berarti juga bahwa masjid harus diintegrasikan keberadaannya dengan hiruk-pikuknya aktifitas komersial. Tentu bukan berarti digabung, tetapi diintegrasikan secara serasi, harmoni dan seirama. Siar-Siarnya juga harus lebih ditampakkan. Berarti pula bahwa ciri religius dalam ruang dan bentuk arsitektur serta ruang kotanya perlu lebih diekspresikan sehingga tampil menjadi sentral kawasan pusat kota khususnya dan Kota bandung pada umumnya. Dalam perjalanan sejarah yang hampir melampaui masa dua abad, Masjid Agung Bandung pernah mengalami `zaman keemasan` yakni ketika dipimpin oleh ulama yang juga sastrawan dan filosof Hoofd Penghulu Bandung Haji Hasan Mustafa. Masjid Agung di tahun 1930-an tersebut paling menonjol fungsinya sebagai pusat ibadah dan sosial penduduk kota. Gaung kohkol dan bedugnya masih terdengar di seantero penjuru kota. Masjid menjadi tempat merayakan Mauludan, Rajaban, Shalat Ied dan belajar mengaji. Ia juga menjadi tempat baitul mal yang menerima zakat fitrah dan mengurusi kesejahteraan umat (Kunto, 1996:13). Istilah ke `Bale Nyungcung` orang berakad nikah, juga sangat terkenal pada saat itu. Semoga masjid agung masa depan kembali menduduki fungsinya seperti itu bahkan lebih ditingkatkan lagi. Berbagai Peran Strategis Pertama, Masjid Agung Bandung sebagai Pembentuk Ruang Kota. Di sini, keberadaan Masjid agung bandung selain akan memberi penunjuk arah bagi orientasi kawasan, juga akan mampu memberi warna tersendiri bagi pembentukan ruang-ruang kota. Apalagi dalam setting masjid yang unik di tengah-tengah kawasan komersial ini. Dengan arah orientasinya yang khas (kiblat) maka bentuk-bentuk ruang kota yang tercipta pun akan menjadi khas karena keberadaannya. Sehingga, sebagai pembentuk ruang kota, masjid ini di masa depan diharapkan bisa menjadi `sentral` dari kawasan ini. Bagi pemerintah daerah kota Bandung, usaha ini tentu menarik karena selain memberikan kekhasan dari pembentukan ruang-ruang kota, juga menjadi ciri religius sebuah kota. Kedua, Masjid Agung Bandung sebagai symbol/Icon. Keberadaan masjid di tengah-tengah kawasan komersial ini diharapkan mampu memberikan cirri dan symbol religiusitas secara fisik. Melalui ekspresi religiusitas yang kuat, ia akan mampu memberikan legitimasi tersebut dan meningkatkan Siarnya. Memang symbol saja tidak cukup, artinya harus juga diikuti dengan esensi, aktifitas, manajemen pengelolaan, pelayanan, dan sebagainya. Ketiga, Masjid Agung Bandung sebagai oase kawasan. Di tengah-tengah kawasan hiruk-pikuk aktifitas komersial sebagaimana telah banyak diilustrasikan di atas, masjid agung bisa menjadi oase di tengah-tengah kawasan tersebut. Oase ini bisa berarti oase psikologis, fikiran, bahkan juga oase fisik. Di tengah-tengah situasi itu, dan melalui suara adzan yang merdu menyusup lembut di antara hiruk-pikuk itu, hamba Allah berhenti sejenak melepaskan segala kepenatan, kebisingan, persaingan, dan segala hal yang bersifat duniawi untuk bersujud di hadapan-Nya. Lalu didapatinya suatu kesegaran baru, untuk berangkat menuju aktifitas rutinnya kembali. Di sinilah terciptanya keseimbangan yang dapat dicapai dengan adanya masjid. Betapa pentingnya oase ini dan betapa diperlukannya oase itu di sini. Keempat, Masjid Agung Bandung sebagai orientasi. Masjid agung yang dibangun sesuai dengan arah orientasi yang benar yakni ke arah Kiblat, menjadikan masjid ini bisa menjadi petunjuk arah orientasi secara fisik bagi bangunan, ruang kawasan hingga kota. Ketika seseorang kehilangan arah orientasi di dalam kota karena terdapat banyaknya gedung-gedung tinggi dalam kawasan bisnis ini, maka masjid mampu menunjukkan dan menjelaskan melalui arah orientasinya. Hal ini disebabkan karena masjid berbeda dengan bangunan religius lainnya, masjid memiliki pedoman yang menyebabkannya harus berorientasi pada satu arah yakni Kiblat (Ka`bah). Kelima, Masjid Agung Bandung sebagai ruh/ecclesia kawasan, kota dan seluruh penduduknya. Keberadaan masjid bisa menjadi pemberi ruh/jiwa yang menguatkan spiritualitas kawasan, kota dan masyarakat Bandung. Aktifitas yang dikelola di masjid dengan baik akan memberikan suntikan berharga bagi mereka. Patut ditingkatkan berbagai majlis ta`lim maupun kegiatan-kegiatan lainnya terutama pada saat-saat ramainya kawasan ini. Keenam, Masjid Agung Bandung sebagai generator aktifitas ekonomi. Di sadari atau tidak keberadaan Masjid Agung Bandung memungkinkan peningkatan pertumbuhan aktifitas ekonomi karena adanya kebutuhan-kebutuhan baru. Jika masjid memiliki berbagai fasilitas yang representatif dan yang lebih penting mampu dikelola dengan baik, sehingga masjid menjadi lebih ramai dikunjungi orang, maka dengan bertambahnya jumlah manusia yang dating, otomastis akan bertambah banyak pula berbagai macam kebutuhan. Selanjutnya aktifitas jual beli juga akan meningkat atau bertambah ramai. Karena pada dasranya antara masjid dan bazaar (pasar) memang tumbuh bersama. Ketujuh, Masjid Agung bandung sebagai media. Di masjid tidak ada perbedaan tingkat, pangkat, jabatan, keturunan, kekayaan, warna kulit, dan segala macam atribut lainnya. Semua manusia berkeddudukan sama sisi Tuhan, seperti ajaran Islam itu sendiri yang tidak pernah membedakan hal-hal tersebut kecuali perbedaan itu terletak pada ketaqwaan di antara mereka. Siapa pun yang berangkat lebih dulu maka ia berhak menempati barisan/shaf paling depan, sehingga menjadi paling mulia pada saat shalat Jumat misalnya. Kondisi lingkungan di luar masjid yang selama ini tidak pernah atau sulit diperolehnya titik temu antara dua kutub yang berbeda, maka sangat mungkin tercapai di dalam masjid dengan karakter seperti itu. Misalnya, suatu kesempatan bisa terjadi direktur bertemu dengan para pegawainya, antara atasan dan bawahan bisa bertemu dalam suasana kebersamaan yang tidak ada perbedaan di antara mereka karena semua sama sebagai hamba Tuhan Yang Maha Kuasa. Dari pertemuan itu, akan sangat mungkin terjadinya komunikasi yang baik dengan landasan kebersamaan Iman, kemudian berbicara dari hati ke hati untuk memecahkan persoalan bersama. Komunikasi itu tidak dalam suasana batasan-batasan psikologis, atau bahkan perintah, instruksi dan struktural lainnya yang kadang kala sering menghambat komunikasi tersebut. Oleh karena itu, masjid Agung mampu menjadi media komunikasi sosial ini. Ia mampu menjadi media pemecahan masalah bersama yang terjadi di luar masjid khususnya dalam kawasan bisnis ini. Kesemuanya peran itu menjadikan Masjid Agung Bandung jelas memiliki peran yang sangat strategis bagi kawasan pusat kota khususnya, dan seluruh Kota Bandung beserta penduduknya pada umumnya. Maka tak ada pilihan lain baginya kecuali jadikan ia landmark kawasan tersebut. Optimalkan peran-peran yang dimungkinkannya baik secara fisik maupun non fisik, sehingga mampu meningkatkan siar dan ciri religius Kota Bandung. Beberapa Catatan pada Masjid Raya Bandung Dua catatan penting ini juga diharapkan menjadi sebuah studi kasus di lapangan untuk masukan UU Republik Indonesia nomor 28 tahun 2002 tentang bangunan gedung khususnya yang terkait proses penyelenggaraan bangunan gedung yang sangat penting di tempat yang sangat strategis seperti ini. Tampaknya kondisi di negeri ini dituntut adanya peraturan khusus menyangkut proses pengambilan keputusan untuk penyelenggaraan bangunan-bangunan istimewa seperti dalam kasus ini.
Menara Mesjid Agung yang mengadopsi simbol tradisional Gedung Sate, saat ini adalah landmark baru kota kembang. Source: Disini | |
Jumat, 10 Agustus 2012
Menara Mesjid Raya Jawa Barat , Museum & Pendidikan
Sabtu, 04 Agustus 2012
Mesjid dengan kisah lubang menuju mekkah
Masjid Agung Keraton Buton juga dikenal sebagai Masjid Agung Wolio. Masjid ini berada di Kota Bau-bau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.
Bila melihat sekilas, masjid ini tampak biasa saja. Dengan bentuk persegi panjang, masjid tertua di Sulawesi Tenggara ini memiliki arsitektur yang sederhana. Tidak seperti Masjid Istiqlal di Jakarta atau Masjid Dian Al Mahri (Kubah Emas) yang memiliki bentuk bangunan yang megah.
Masjid yang sudah mengalami pemugaran sejak pemerintahan Sultan Buton ke-37 pada tahun 1930 ini memiliki 12 pintu di keempat sisinya dan 12 jendela di bagian atas. Maksud dari jumlah pintu dan jendela tersebut adalah menyesuaikan dengan jumlah pintu pada Benteng Wolio yang juga berjumlah 12.
Ya, dari luar masjid ini memang terlihat biasa saja. Namun, bila Anda masuk ke dalamnya ada yang mencengankan dan membuat mulut Anda mengucap “Subhanallah”. Seperti detikTravel lansir dari situs resmi Pariwista Indonesia, Senin (23/7/2012), di dalam masjid agung ini terdapat pusena (pusatnya bumi) yang konon kisahnya sering terdengar suara azan dari Mekkah, Arab Saudi. Pusena ini berbentuk lubang yang berada tepat di belakang Mihrab.
Masyarakat sekitar mempercayai kalau bekas kompleks Kesultanan Buton ini berada di atas pusat bumi. Lubang yang berada di dalam masjid ini pun dipercayai mereka sebagai gua bawah tanah yang bisa langsung ‘menuju ke Mekkah’.
Selain, dianggap sebagai ‘pintu Mekkah’, lubang tersebut juga memiliki mitos lainnya. Konon, bila melongok ke dalam lubang pusena, Anda bisa melhat orang tua atau kerabat yang sudah lebih dahulu menghadap Sang Khalik.
Sumber : detik.com
Kamis, 27 Agustus 2009
Danau Ranau (Sumatera: Indonesia)
Danau Ranau merupakan danau terbesar dan terindah di Sumatera Selatan yang terletak di kecamatan Banding Agung Kabupaten UKO Selatan (dahulu masuk dalam wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu). Berjarak sekitar 342 km dari kota palembang, 130 km dari kota Baturaja, dan 50 kilometer dari Muara Dua, ibu kota OKU Selatan, dengan jarak tempuh dengan mobil sekitar 7 jam dari kota Palembang. Sementara dari Bandar Lampung, danau ini bisa ditempuh melalui Bukit Kemuning dan Liwa. Secara geografis, danau ini terletak di perbatasan Kabupaten OKU Selatan Propinsi Sumatera Selatan dan Kabupaten Lampung Barat Propinsi Lampung.
Pada sisi lain di kaki gunung Seminung terdapat sumber air panas alam yang keluar dari dasar danau. Di sekitar danau ini juga dapat ditemui air terjun Subik. Tempat lain yang menarik untuk dikunjungi adalah Pulau Marisa yang terletak tidak jauh dari air panas.
![[IMG_1340.jpg]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsc-WfuiZQdCSxZdti1dTtn_mv0BJ5sc_kkqvnQIAGrYHNa6L-IlBGpvHhHmk4oSSMbnl7lxUcgwsXmBIlvdY-GZ_Dvmua-6EskbrCdJ260yDabzuq8fpEjc63mH6G4ZHXsJhF1E8guzaw/s1600/IMG_1340.jpg)
Rabu, 26 Agustus 2009
Berbagai Kesenian Dari Bali (Indonesia)

Pada awalnya, Tari Pendet merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura. Tari yang tercipta awal tahun tujuh puluhan oleh seniman I Nyoman Kaler ini, menggambarkan penyambutan atas turunnya Dewa-dewi ke alam marcapada yang merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Taburan bunga disebarkan di hadapan para tamu sebagai ungkapan selamat datang.
Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang; pemangkus pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa. Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakkan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakkan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.
Klik Selanjutnya Untuk membaca kelanjutannya,....!!!
Tari Pendet adalah tarian para putri yang memiliki pola gerak yang lebih dinamis dari tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan, ditampilkan setelah tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan dan perlengkapan sesajen lainnya.
Dalam legenda, Legong adalah tarian ritual para dewa-dewa suci. Dari semua tarian klasik Bali, Legong tetap merupakan inti dari keindahan dan keanggunan. Gadis-gadis tertentu dipilih untuk mewakili masyarakat sebagai penari Legong. Penari-penari pakar melakukan tarian ini dengan rasa bangga dan mereka meluangkan waktu berjam-jam membahas tema dari berbagai kelompok Legong. Legong yang paling terkenal adalah Legong Keraton, Legong dari keluarga kerajaan.

Barong adalah pelindung gaib dari desa-desa Bali. Sebagai "penguasa hutan" dengan topeng bergigi runcing dan rambut panjang, Barong adalah lawan dari Rangda sang penyihir, penguasa roh kegelapan, dalam pertarungan yang tidak pernah berakhir antara baik dan jahat. Dalam festival-festival Galungan Kuningan, Barong (terdapat banyak jenis barong, termasuk barongket, barong macan, dan barong bangkal) mengembara dari pintu ke pintu (nglawang) membersihkan daerah dari pengaruh jahat.

Saat yang menyeramkan pada malam pertama bulan purnama pada waktu bayangan gelap terlihat seperti hantu diatas tanah, pada saat penghuni desa berkumpul Pura Dalem untuk menonton drama Calon Arang, kisah seorang janda jahat yang bernama Dirah. Setiap orang Bali mengenal cerita legenda Calonarang.

Tarian topeng adalah pertunjukan topeng sakral yang didasarkan pada legenda-legenda silsilah kehidupan; dengan wayang kulit, salah satu media tradisional kebudayaan. Serangkaian toping model yang merupakan simbol figur-figur keluarga kerajaan diatur apik dalam rangkaian tari-tarian dan diiringi oleh orkes gamelan.

Tarian sakral ini berhubungan langsung dengan upacara keagamaan dimana aktivitas ini berfungsi sebagai persembahan, doa, atau upacara mengusir roh jahat. Dengan keterlibatan pemangku (pendeta dan penjaga pura desa), upacara ini merupakan sebuah bentuk hubungan dramatis dengan dunia spiritual serta melakukan komunikasi dengan tujuan untuk mensukseskan kegiatan upacara tersebut.

Suling dimainkan dengan nada yang memilukan, kemudian ada suara yang mengalunkan lagu aneh dengan nada tinggi ke intonasi nada yang tertinggi yang hampir tidak kedengaran. Dua gadis kemudian tampil dengan mengenakan mahkota yang sangat indah dengan tanduk yang berwarna-warni. Mereka berjalan kedepan, agar pasangan berikutnya maju, sampai akhirnya dua belas gadis berada diatas panggung. Secara perlahan-lahan, mereka berlutut pada posisi tubuh saling berhadapan, memiringkan kepalanya dengan gerakkan bola mata mengikuti irama musik.
Di Pura, dua gadis berlutut didepan anglo dengan dupa berasap. Sang pemangku memberikan persembahan kepada dewa pura, meminta perlindungan untuk seluruh desa selama jam upacara. Dibelakang dua gadis ini terdapat sekelompok wanita yang duduk sambil menyanyikan lagu Sanghyang, yang meminta dewa angkasa untuk turun dari surga dan menari dihadapan masyarakat melalui tubuh para gadis tersebut.

Arja merupakan bentuk tarian gabungan Bali (yang dikenal dengan nama OPERA oleh komunitas internasional) dengan cerita-cerita, lagu dan komedi aslinya. Karakter ini berkomunikasi dengan golongan kasta tertinggi Bali melalui dialog dan puisi. Apa yang mereka ucapkan kemudian diterjemahkan menjadi bahasa harian masyarakat Bali oleh para pemain

Seperti halnya Legong dengan keindahan feminimnya, Baris, sebuah tarian perang tradisional, adalah tarian yang memuja keperkasaan kesatria Bali yang menang perang, para penarinya mengenakan topeng-topeng raksasa atau topeng setan yang menyeramkan, dan ceritanya diambil dari episode-episode versi Kawi dari legenda Ramayana dan Mahabharata. Ada beberapa jenis tarian Baris yang dibedakan berdasarkan senjata yang dibawa. Yang bersifat ritual adalah Baris Gede dimana tarian menceritakan dimana para prajurit kerajaan sedang melakukan defile di kerajaan.
Tarian ini adalah tarian modern yang dikembangkan oleh almarhum Mario ditahun 1952, Oleg Tambulilingan telah menjadi tambahan populer pada deretan tarian yang disertakan pada pertunjukkan Legong. Awalnya tarian ini dimainkan hanya oleh satu gadis yang disebut Oleg, istilah umum yang berarti goyangan sang penari. Akhirnya, pria pun disertakan untuk membuat duet, dan tarian ini kemudian mendapat tema baru yang mengilustrasikan dua tambulilingan (lebah) yang bermain-main ditaman.
Berlawanan dengan kepercayaan, tarian Kecak itu sendiri tidak begitu tua. Tarian ini mungkin pertama kali dilakukan ditahun 1930. Lagunya diambil dari ritual tarian Sanghyang kuno, yang sampai hari ini masih dilakukan beberapa desa. Selama tarian Sanghyang, seseorang akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.
Di pulau Nusa Penida hiduplah roh jahat, Jero Gede Mecaling, sang raksasa bertaring. Raksasa ini pernah berkunjung ke Bali bersama rombongan setannya. Dia turun di Bali bagian selatan dalam wujud Barong dan menunggu disana sementara kaki tangannya berpencar untuk menghancurkan kehidupan. Masyarakat kemudian mengetahui keberadaan raksasa ini dan meminta nasihat kepada pendeta yang mengatakan bahwa mereka harus menciptakan Barong lain yang bentuknya seperti Jero Gede Mecaling; ini saja cukup kuat untuk mengusir setan. Mereka kemudian membuat sebuah Barong yang besar dan berhasil mengusir sang raksasa itu kembali ke Nusa. Sejak saat itu, Barong ini digunakan untuk menyembuhkan penyakit dan mengusir roh setan.
Seperti halnya Baris, Kebyar adalah tarian tunggal, tetapi tarian ini bersifat lebih individualistik. Tarian Baris mengilustrasikan gerakkan-gerakkan kesatria Bali secara umum. Dalam tarian Kebyar, penekanannya adalah pada penari itu sendiri yang menginterpretasikan nuansa musik dengan ekspresi wajah dan gerakkan.

Seorang pria riang dengan perut yang besar, terkenal sebagai orang rakus Bali. Cerita Cupak, yang dimainkan sebagai tarian komik, lebih bersifat seperti drama legenda: sebuah kerajaan, hutan yang misterius dan lautan yang dalam; seorang penjahat, permaisuri, tukang sihir dan pahlawan, bencana, solusi masalah, dan kegembiraan.
Pada drama ini, penekanannya lebih besar pada penyelesaian sebuah cerita dibandingkan padanan antara musik dan tarian. Musik gamelan selalu merupakan elemen penting, tetapi tidak semutlak pengembangan warna kepribadian dari para pesertanya. Cerita cinta, kisah romantika jaman dahulu kala, petualangan cinta, dan keperkasaan kesatria adalah tema-tema yang populer dari drama-drama ini.
Gambuh
Berkembangkan diantara orang-orang Bali tarian dari generasi ke generasi; semua bentuk tarian, yang sering didengarkan oleh setiap orang, adalah tarian yang dikembangkan dari Gamboeh; semua teknik tarian berasal dari gerakkan-gerakkan Gamboeh, semua instrumen dan nada berasal dari gamelannya yang khas.

Tarian ini merupakan tarian kuno Topeng, dimana sejarah leluhur, agama Hindu Bali, dan kritikan terhadap situasi regional dirangkai bersama dalam musik, tarian, lagu dan lawakan untuk memperingati para pahlawan dan keterkaitannya dengan situasi kontemporer sehari-hari.
Tari Rejang
Tari Rejang (tidak ada hubungannya dengan Tari Kejang - Red) ini memiliki gerak tari yang sederhana dan lemah gemulai, ditarikan oleh penari putri (pilihan maupun campuran dari berbagai usia) yang dilakukan secara berkelompok atau massal di halaman pura pada saat berlangsungnya suatu upacara. Bisa diiringi dengan gamelan Gong Kebyar atau Gong Gede.
Tari Rejang ini, oleh masyarakat Bali dibagi dalam beberapa jenis berdasarkan status sosial penarinya (Rejang Deha: ditarikan oleh remaja putri), cara menarikannya (Rejang Renteng : ditarikan dengan saling memegang selendang), tema dan perlengkapan tarinya terutama hiasan kepalanya (Rejang Oyopadi, Rejang Galuh, Rejang Dewa dll).
Di desa Tenganan, dalam upacara "Aci Kasa" ditarikan tari Rejang Palak, Rejang Mombongin, Rejang Makitut dan Rejang Dewa yang diiringi dengan gamelan Selonding yang masing-masing tarian Rejang tersebut dapat dilihat perbedaannya dari simbol-simbol dan benda sakral yang dibawa penarinya, pola geraknya, cara menarikannya dan tata busananya.
Sumber : www. Bali.go.id
Batik : Kerajinan Tangan Indonesia
Batik (atau kata Batik) berasal dari bahasa Jawa "amba" yang berarti menulis dan "nitik". Kata batik sendiri meruju pada teknik pembuatan corak - menggunakan canting atau cap - dan pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna corak "malam" (wax) yang diaplikasikan di atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna. Dalam bahasa Inggris teknik ini dikenal dengan istilah wax-resist dyeing. Jadi kain batik adalah kain yang memiliki ragam hias atau corak yang dibuat dengan canting dan cap dengan menggunakan malam sebagai bahan perintang warna. Teknik ini hanya bisa diterapkan di atas bahan yang terbuat dari serat alami seperti katun, sutra, wol dan tidak bisa diterapkan di atas kain dengan serat buatan (polyester). Kain yang pembuatan corak dan pewarnaannya tidak menggunakan teknik ini dikenal dengan kain bercorak batik - biasanya dibuat dalam skala industri dengan teknik cetak (print) - bukan kain batik.
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Klik baca selanjutnya,....
Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.
Teknik membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul batik. Ada yang menduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga sangat populer di beberapa negara di benua Afrika. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia, terutama dari Jawa.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.
CARA PEMBUATAN:
Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.
Sumber: Wikipedia.com





