BREAKING NEWS
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Terkenal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Terkenal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Agustus 2012

Abu Abdullah Al Battani, Sang Penemu Waktu dalam 1 Tahun

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang yang mengetahui.” (QS Yunus [10]: 5)


Ketepatan penghitungan al-Battani (850-932 M) dalam bidang astronomi, membuatnya berhasil menemukan perhitungan waktu dalam satu tahun yang terdiri dari 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik.

Cendekiawan muslim di bidang astronomi dan matematika ini lebih dikenal di Barat dengan nama Albategnius. Beliau lahir di Battan, Suriah dengan nama lengkap Abu Abdullah Muhammad Ibnu Jabir Ibnu Sinan ar Raqqi al-Harrani as Sabi al-Battani.

Pemikirannya dalam bidang astronomi yang mendapat pengakuan dunia adalah penghitungan waktu bumi dalam mengelilingi pusat tata surya. Kerja kerasnya selama 42 tahun tersebut mendekati perhitungan terakhir yang dianggap lebih akurat.

Al Battani juga menentukan kemiringan ekliptik, panjangnya musim dan orbit matahari. Ia bahkan berhasil menemukan orbit bulan dan planet serta menetapkan teori baru dalam menentukan kemunculan bulan baru.

Penemuannya mengenai garis lengkung bulan dan matahari tersebut kemudian menjadi dasar bagi Dunthorne pada tahun 1749, untuk menentukan gerak akselerasi bulan.

Khalifah Harun al-Rashid membangun beberapa istana di kota Raqqa sebagai penghargaan atas sejumlah penemuan al-Battani yang kemudian mengantarkan kota ini mencapai kemakmuran dan menjadi pusat kegiatan ilmu pengetahuan.

Karya-karyanya di bidang astronomi sangat berpengaruh di Eropa hingga masa Renaisance. Salah satu bukunya yang paling terkenal, Kitab 'al-Zij' diterjemahkan ke dalam bahasa latin dengan judul 'De Motu Stellarum'. Kitab inilah yang membuat Copernicus dalam bukunya 'De Revolutuionibus Orbium Clestium', mengungkapkan rasa hutang budinya kepada al-Battani.

Wallahu a’lam bish-shawab

Source:
DetikRamadhan






Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan, Bapak Kimia Sepanjang Masa

“Sebenarnya Al Qur-an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (QS Al Ankabut [29]: 49)


Kata Kimia, dalam bahasa Inggrisnya 'alchemy', diambil dari judul buku karya Ibnu Hayyan berjudul al-Kimya.

Ibnu Hayyan atau Geber (721-815 M), sebutannya di dunia barat, adalah ilmuwan pertama yang menemukan dan mengenalkan disiplin ilmu kimia. Predikat Bapak Kimia memang sangat pantas didedikasikan kepada Ibnu Hayyan, cendekiawan muslim yang lahir di Tus, Iran dan kemudian wafat di kota Kufah, sekarang Irak. Keahliannya dalam bidang kimia berkembang di masa pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid di Baghdad, di mana ia berhasil mengembangkan sebuah teknik yang membuat setiap hasil eksperimen dapat diproduksi kembali.

Dalam teknik yang disebut eksperimentasi sistematis, ia menekankan bahwa kuantitas zat sangat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi, tak heran banyak kalangan di bidang ilmu kimia menganggap bahwa Ibnu Hayyan berhasil merintis arah sebuah hukum perbandingan tetap.

Beliau juga dikenal sebagai sosok yang memperkenalkan percobaan yang berkaitan dengan pembentukan unsur asam dan mineral, proses serta alat untuk distilasi, kristalisasi, penguapan dan masih banyak lagi.

Kitab al-Kimya dan Kitab al-Sab’een, salah satu karyanya, diterjemahkan pada tahun 1144 ke dalam bahasa Latin yang dikenal menjadi The Book of the Composition of Alchemy. Dari 500 studi kimia hasil karyanya, banyak yang diterjemahkan ke dalam beberapa judul seperti Book of Kingdom, Book of Balances, dan Book of Eastern Mercury. Beberapa kosakata kimia yang ia gunakan juga masih dikenal hingga saat ini seperti alkali dan lain-lain.

Wallahu a’lam bish-shawab



Abu Raihan Al Biruni, Sang Guru Segala Ilmu

“Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia.” (QS. Al Hadid [57]: 25)



Hasil pengamatan dan percobaannya terangkum dalam 200 buku lebih, atau setara dengan 13 ribu lembar folio, melebihi jumlah tulisan Galileo dan Newton bila keduanya digabungkan.

Penguasaannya dalam berbagai ilmu pengetahuan menjadikan Abu Arrayhan Muhammad Ibnu Ahmad al-Biruni (973-1048 M) dijuluki sebagai usadz fil ulum atau guru segala ilmu. Sejak usia 17 tahun, beliau telah melakukan pengamatan serius di bidang astronomi, yaitu menghitung garis lintang Kath melalui pengamatan ketinggian maksimum matahari.

Belum genap 22 tahun, al-Biruni telah menulis sejumlah kertas kerja, namun sebagian besar hilang ditelan sejarah. Salah satu karya beasr al-Biruni dalam bidang geologi adalah Kitab al-Jamahir yang mendeskripsikan lebih dari 100 mineral lengkap dengan varian, genesa, karakteristik dan nilai ekonomisnya. Kitab ini memuat data berbagai cadangan mineral yang ada di Cina, India, Sri Lanka, Eropa Tengah, Mesir, Mozambiq dan kawasan Baltik.

Sumbangannya terhadap ilmu dan peradaban India amat besar, salah satunya adalah Kitab al-Hind, yang menjadi rujukan para penelitia India hingga hampir 6 abad setelahnya. Beliau mengupas secara rinci beragam kondisi geografis, sosial, budaya, keagamaan dan bahasa masyarakat India, termasuk menciptakan kaidah penggunaan angka-angka India. Beliau juga melakukan pengamatan dan menyimpulkan bahwa fosil-fosil yang ada di lapisan batuan di India tersebut berasal dari laut yang terbentuk di lautan, sebuah penemuan yang dilakukan oleh Leonardo da Vinci 500 tahun kemudian.

Di bidang astronomi, ia menyatakan bahwa bumi berputar pada porosnya, menghitung keliling bumi dan menentukan secara ilmiah arah kota Mekkah dari berbagai tempat di dunia.

Dedikasinya yang total bagi ilmu pengetahuan tercermin dari penolakkannya terhadap penghargaan Sultan yang berkuasa pada saat itu, berupa ribuan mata uang perak yang dibawa oleh 3 ekor unta. Dengan sopan al-Biruni berkata, “Saya mengabdi terhadap ilmu pengetahuan demi ilmu pengetahuan itu sendiri, dan bukan demi uang.”


Wallahu a’lam bish-shawab

Source:
DetikRamadhan




Abu Al-Qasim Al-Zahrawi, Bapak Ilmu Bedah Modern

“(yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy Syu’ara [42]: 78-80)

http://images.detik.com/content/2012/08/02/630/abualqasimalzahrawi.jpg

Kontribusinya yang besar dalam sejarah ilmu bedah dibukukan dalam ensiklopedia 30 volume yang berjudul Medical Practices atau Kitab al-Tasrif, yang kemudian menjadi rujukan penting selama lebih dari lima abad di berbagai universitas di Eropa.

Dalam Kitab al-Tasrif, al-Zahrawi (963-1013 M) banyak menguraikan hal-hal baru dalam operasi medis, sebagai blue print dari pengalamannya selama 50 tahun di dunia pengobatan. Gherard dari Cremona menerjemahkan Kitab al-Tasrif ke dalam bahasa Latin yang diterjemahkan kembali ke dalam berbagai bahasa seperti Hebrew, Perancis, dan Inggris. Pakar bedah Perancis yang terkenal, Guy de Chauliac (1300-1368) menjadikan tulisan al-Zahrawi sebagai referensi dalam buku bedahnya. Bahkan hingga lima abad setelah al-Zahrawi meninggal dunia, bukunya tetap menjadi buku wajib bagi para dokter di berbagai belahan dunia.

Al-Zahrawi adalah orang pertama yang mengenali penyakit kelainan darah (Hemophilia). Beliau membahas tentang aneka obat untuk penyembuhan pasca operasi, serta menciptakan teknik untuk menyiapkan gigi palsu dan cara memasangnya. Dunia Barat menyebut cendekiawan muslim ini dengan nama Abulcasis yang juga dikenal sebagai Bapak Ilmu Bedah Modern. Beliau menyumbangkan kemampuannya dalam bidang ilmu bedah dengan menerapkan ilmu pengobatan Islam yang dikombinasikan dengan teori kedokteran Eropa. Kedalaman ilmunya dalam bidang kedokteran, khususnya ilmu bedah, menjadikannya sebagai dokter kerajaan pada masa Raja al-Hakam II dari Kekhalifahan Umayyah.

Al-Zahrawi juga menemukan lebih dari 200 peralatan bedah yang sangat signifikan dalam pelaksanaan sebuah operasi maupun perawatan suatu penyakit.


Wallahu a’lam bish-shawab

Source:
DetikRamadhan

Ibnu Ismail Al-Jazari, Bapak Modern Engineering


“Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Mulia Perkasa.” (Qs. Al Hadid: 25)



Al-Jazari (1136-1206 M) mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian hari dikenal sebagai mesin robot.

Al Jazari adalah seorang tokoh besar di bidang mekanik dan industri. Lahir di al-Jazira, yang terletak di antara sisi utara Irak dan timur Syria, tepatnya di antara sungai Tigris dan Efrat.

Julukan sebagai Bapak Modern Engineering diberikan kepadanya berkat temuan-temuannya yang banyak mempengaruhi rancangan mesin-mesin modern saat ini, di antaranya sistem combustion engine crankshaft, suction pump, programmable automation, dan banyak lagi.

Donal Routledge Hill dalam bukunya 'Studies in Medieval Islamic Technology', mengatakan bahwa hingga zaman modern ini, tidak satupun tulisan dari suatu kebudayaan yang dapat menandingi lengkapnya instruksi untuk merancang, memproduksi dan menyusun berbagai mesin sebagaimana yang disusun oleh al-Jazari. Beliau mendokumentasikan lebih dari 50 karya temuannya, lengkap dengan rincian gambar-gambarnya dalam buku 'al-Jami Bain al Ilm Wal-‘Amal al-Nafi Fi Sinat’at al-Hiyal' (The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices).

Pada tahun 1206, al-Jazari membuat Jam Gajah yang bekerja dengan tenaga air dan berat benda untuk menggerakkan secara otomatis sistem mekanis, yang dalam interval tertentu akan memberikan suara simbal dan burung berkicau. Prinsip humanoid automation inilah yang mengilhami pengembangan robot pada masa sekarang. Kini replika Jam Gajah tersebut disusun kembali oleh London Science Museum, sebagai bentuk penghargaan atas karya besarnya.


Wallahu a’lam bish-shawab

Source:
DetikRamadhan

Ibnu Battutah, Sang Penemu Peta Dunia Pertama


“Dan Kami jadikan antara mereka (penduduk Saba') dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman.” (Qs. Saba’ [34]: 18)


Hanya dengan berbekal peralatan seadanya, Ibnu Battutah merupakan orang pertama yang melakukan petualangan mengelilingi dunia.

Abu Abdullah Muhammad Ibnu Battutah (1304-1377 M) yang lahir di Tangier memulai perjalanan panjangnya pada usia 20 tahun. Awalnya, Ia melakukan perjalanan darat dan menyusuri pantai utara Afrika melewati Aljazair Tunisia, Tripoli, Alexandria, Kairo, Jerusalem, singgah di Damaskus, dan kemudian menuanaikan ibadah haji di Mekkah.

Perjalanannya kemudian dilanjutkan menuju wilayah – saat ini – Iran dan Irak, dan diteruskan ke Pantai Timur Afrika hingga ke Kota Kilwa, sekarang Tanzania, melalui jalur laut ke Teluk Persia.

Pengambaaran beliau ke wilayah Asia Tengah diteruskan melalui Anatolia ke Turki. Singgah di Konstantinopel – sekarang Istambul- sebelum kemudian berlayar menyeberangi Laut Hitam dan dilanjutkan ke dekat wilayah Afghanistan sekarang. Dari wilayah Sungai Volga, Ia melintasi Afghanistan melalui Kabul hingga ke Delhi, India. Pada tahun 1342, Sultan Delhi mengutus Battutah melakukan perjalanan ke Cina sebagai Duta Besar. Ia berlayar melalui Kepulauan Maladewa, Sri Lanka, Bangladesh, Myanmar, Kepulauan Andaman, Aceh, Selat Malaka, Singapura, mengarungi Laut Cina Selatan dan meneruskan perjalanan darat hingga ke Beijing di bagian utara Cina.

Sekembali dari pengembaraannya, beliau diminta oleh Sultan Maroko untuk menceritakan kisah perjalanannya, yang kemudian dibukukan dengan judul "Rihlah Ibnu Battutah al-Musammah Tuhfah al-Nuzzar fi Ghara’ib al-Amsar wa ‘Ajaib al-Asfar". Kisah ini amat kaya dengan penggambaran dunia di bidang geografi, sejarah, antropologi dan juga kebudayaan pada saat itu.


Wallahu a’lam bish-shawab

Source:
DetikRamadhan

Omar Al-Khayyam, Pencetus Teori Heliocentric


“Bukankah Kami telah menjadikan bumi ini sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan, dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami jadikan malammu sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, dan Kami bangun di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat?” (Qs. An Naba [78]: 6-16)



Di masa hidupnya, Ia dikenal sebagai seorang yang mendalami ilmu falaq, aljabar, filsafat dan musik. Tetapi dunia lebih mengenalnya sebagai seorang penyair terbesar dalam khazanah dunia sastra.

Memiliki nama lengkap Ghiyath al-Din Abu al-Fath Omar Ibnu Ibrahim al-Khayyami (1048-1131 M). Beliau dilahirkan di Nishapur, Iran, dan wafat di kota kelahirannya juga, setelah bertahun-tahun mengembara ke banyak kota yang menjadi pusat ilmu pengetahuan pada masa itu.

Dalam sebuah observatorium yagn didirikan Sultan Malik Syah untuknya, Omar al-Khayyam mengembangkan ilmu astronomi, hingga pada tahun 1079 ia berhasil merumuskan perhitungan untuk waktu setahun, yaitu 365,24219858156 hari, sebagai kelanjutan atas perhitungan yang dilakukan oleh al-Batani.

Perhitungan ini sangat akurat hingga enam digit di belakan koma, jika dibandingkan dengan perhitungan masa kini, yaitu 365,242196 hari. Perhitungan al-Khayyam ini dianggap jauh lebih baik dibandingkan dengan perhitungan revisi yang dilakukan oleh Paus Gregory XIII pada tahun 1528 terhadap kalender Kristian atau kalender Julian (Julius Caesar) yang telah dipakai selama lebih dari 10 abad.

Beliau juga memperkenalkan Teori Heliocentric yang menjelaskan bahwa matahari adalah pusat tata surya. Teori ini baru dinyatakan oelh Copernicus lebih dari empat ratus tahun kemudian. Dalam bidang matematikan, Omar Khayyam meneruskan tradisi aljabar Khawarizmi. Beliau adalah orang pertama yang secara ilmiah mengklasifikasikan persamaan-persamaan kuadrat dengan memberikan solusi aritmatika dan geometri.

Meski hasil karyanya telah memberi sumbangan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, namu karya-karya Omar Khayyam di bidang sastra justru terkenal lebih luas. Lebih dari 600 Rubaiyat atau Quatrain (syair empat baris), karyanya di bidang sastra, diterjemahkan dan disusun oleh Edward Fitzgerald pada tahun 1859 ke dalam bahasa Inggris. Bait-bait syairnya sebagian besar menyingkap kerendahan hatinya kepada Allah SWT.


Wallahu a’lam bish-shawab

Source:
DetikRamadhan

Ibnu Sina, Bapak Pengobatan Modern

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuhan bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS Yunus [10]: 57)



Hingga saat ini, karya-karyanya tetap menjadi rujukan penting dalam ilmu kedokteran modern.

Ibnu Sina juga dikenal dengan nama Avicenna (980-1037 M). Beliau mendapat julukan ‘Bapak Pengobatan Modern’. Beliau telah menulis sekitar 450 buku dalam berbagai bidang ilmu, terutama bidang kedokteran dan filosofi, di antaranya yang terkenal adalah The Canon of Medicine (Al Qanun fi al-Tibb) dan The Book of Healing (Kitab al-Shifa).

Ibnu Sina bernama lengkap Abu ‘Ali al-Husayn ibnu ‘Abdullah ibnu Sina. Lahir pada tahun 980 M di Agsyahnah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan. Beliau dikenal memiliki kecerdasan yang tinggi serta daya ingat yang luar biasa. Tak heran jika beliau mampu menghafal Al-Qur-an pada usia yang kelima.

Beliau mulai belajar ilmu kedokteran pada usia 16 tahun, tidak hanya secara teori, tetapi juga mencari metode sendiri dalam menyembuhkan penyakit. Beliau bahkan memperoleh predikat ahli medis (physician) pada usia 18 tahun.

Ibnu Sina meninggal pada usia 58 tahun, tepatnya 1 Ramadhan 428 H di kota tercintanya, Hamadan, Iran. Di akhir hidupnya, beliau membagi-bagikan seluruh harta yang dimilikinya kepada orang-orang miskin. Ungkapannya, “Saya memilih hidup yang singkat tapi penuh manfaat, daripada hidup lama tapi sedikit memberikan manfaat.”


Wallahu a’lam bish-shawab

Source:
DetikRamadhan
 
Copyright © 2014 I'm Blogger, Facebooker and Kaskuser.... Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates